
Momentum pertarungan politik pada pemilu legislatif 2009 baru saja meninggalkan sirkuit, saatnya para capres dan cawapres unjuk gigi mempertontonkan kekuatan kendaraan politiknya dalam beradu pada momentum pemilu ini. Tak beda dengan pemilu legislatif, pemilu eksekutif juga menggunakan partai politik sebagai kendaraan politiknya dalam pertarungan.
Logika demokratisasi adalah logika partisipasi, kontestasi dan akuntabilitas. Pola kontestasi dominan dimainkan oleh partai-partai politik sebagai satu-satunya kendaraan politik yang sah di mata regulasi pemilu. Jadi kekuatan partai adalah variabel yg paling substansial dalam mendorong legitimasi dalam tampuk kepemimpinan negara !
Partai politik setidaknya memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai sarana pendidikan politik buat masyarakat, sarana komunikasi politik buat masyarakat, sarana rekruitmen politik dan sebagai peredam konflik. Keempat hal ini lah paling tidak menjadi gerakan partai politik. Tetapi fungsi-fungsi dari partai politik tidak akan dapat terwujud ketika parti politik tidak memiliki konsistensi dalam memperjuangkan ideologinya.
Ideologi partai politik tidak selesai hanya pada konstitusi atau AD/ART saja, tetapi ideologi parpol mestinya menjadi aksiologis pergerakan partai dalam mengemban misi demokrasi. Ingat ideologi yang saya maksud adalah ideologi ”partai” bukan ideologi ”kader partai”. Partai-partai politik hadir dalam sebuah petarungan politik atas dasar perjuangan kelompok-kelompok yang mengusung ideologi yang berbeda. Makanya akibat dari banyaknya partai adalah sebab dari banyaknya perbedaan ideologi sebuah kelompok.
Coba kita lihat kondisi partai politik kita hari ini dalam momentum pemilu. Sewaktu pemilu legislatif setiap parpol kencang berdialektika dengan ideologinya masing-masing untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa ideologi kami lah yang pantas dalam pembangunan negara ini ke depannya. Tapi coba kita lihat pada momentum pemilihan presiden, masihkan ideologi itu dipertahankan ??? ruang-ruang transaksional segera terbuka lebar hanya untuk satu kepentingan, yakni mendapatkan beberapa rupiah atau posisi legitimasi kekuasaan dalam struktur pemerintahan...hehehehe..aneh..
Ideologi tak lagi menjadi suci untuk diperjuangkan, ideologi tak beda layaknya penikmat lara buat masyarakat untuk melihat masa depan bangsa yang entah diarahkan kemana..
Bukti kongkrit ideologi partai hanya dijadikan (maaf) pembalut kelamin yang gonta ganti tergantung situasi politik seperti banyaknya kader-kader partai yang tercerai berai dalam internal partainya sendiri karena persoalan rekruitmen politik kekuasaaan. Ideologi usungan partai tidak menjadi ikrar dalam setiap kadernya,,entah apakah kaderisasi yang asal-asalan, ataukah memang partai bohong-bohongan.Kalau kita memakai pendekatan alienasinya Marx..partai politik telah teralinasi oleh kadernya sendiri, teralienasi oleh ideoliginya sendiri teralinasi dengan ruang pertarungannya !! kasihan si partai..hihihi..
Sekali lagi partai politik tidak punya ideologi, yang punya ideologi adalah orang-orang dalam partai yang memiliki kepentingan individual dan menggunakan parpol sebagai kendaraan sekedar memenuhi hasrat kekuasan individu. Apa partai yang seperti ini anda butuhkan ? partai yang tdak punya kelamin,,ngak jelas pria atau wanita atau bahakan berkelamin ganda..xixixi silahkan tanya diri anda sendiri..klo saya sich..gak minat sama yang berkelamin ganda !!selanjutnya terserah anda..
Faursyah rosyidin
anak indonesia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar