Senin, 29 Juni 2009

Lahirnya Sinar Baru dari Rahim HMI..

Enam puluh tahun lalu, tepatnya 5 Februari 1947, Himpunan Mahasiswa Islam didirikan oleh Lafran Pane dan beberapa orang sahabatnya. Sebuah ikhtiar mulia yang dimaksudkan untuk membantu perjuangan negara ini mengisi kemerdekaan melalui jalur kebangsaan dan keummatan. Tak pelak, salah satunya karena landasan perjuangan “model” inilah HMI kemudian mendapat “tempat” di hati para mahasiswa islam di Indonesia.

Sebagai salah satu organisasi kemahasiswaan terbesar sekaligus tertua di Indonesia, HMI senantiasa bergelut dengan dinamika kesejarahan bangsa ini. Karena memiliki kuantitas anggota dengan mekanisme kaderisasi tersendiri, HMI niscaya melahirkan banyak kader yang memiliki kualitas yang tidak bisa dianggap sepele. Dalam kancah kebangsaan, kader-kader HMI senantiasa mewarnai. Begitu pun di banyak bidang kebangsaan lainnya.( Asta Qauliyah).

Di tengah kemelut umat dan bangsa, HMI senatiasa mengabil peran strategis dalam pembangunan bangsa ini, segala gerak fluktuatif umat dan bangsa bagi saya HMI tetap memiliki kontribusi yang signifikan dalam bentuk apapun itu..

Melihat kesejarahannya HMI layaknya penggerak kultural bangsa, menciptakan wahana intelektualisme dalam kehidupan sosial Indonesia..,melahirkan pemimpin2 bangsa yang tentunya akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas dan maju…Tapi ketika kita mencoba untuk menggiringnya pada konteks kekinian, apakah HMI masih melakoni perannya dengan sungguh-sungguh ataukah HMI hanya besar dengan berjubah euphoria kebesarannya dimasa lampau ?

Itu menjadi otokritik bagi kader-kader HMI hari ini yang masih bergelut dalam ruang dialektika kompleksitas kebutuhan tiap kadernya..! atau apakah kader-kader HMI masih mengenal Altruisme untuk bangsa?? Saya menduga hanya tinggal egoisme yang akut yang ada..

Peringatan MILAD HMI ke 62 yang bertepatan pada tanggal 5 Februari 2009 betul-betul harus menjadi bahan refleksi untuk setiap kader untuk kembali pada jalan idealitasnya upaya pembangunan umat dan bangsa ! Kelahiran HMI pada tanggal 5 Februari juga turut melahirkan generasi baru dari rahim HMI..hari ini Rausyanfikr (nama anak itu) telah hadir di muka bumi ini dengan wajah yang membawa kebahagiaan dan ketentramaan seperti apa yang diharapkan HMI bagi bangsa ini..

Rausyanfikr lahir dari ayah dan ibu yang selama ber-HMI mengabdikan dirinya dengan penuh loyalitas dan tanggung jawab sebagai kader yang penuh dengan keyakinan Yakin Usaha Sampai :)

Mudah-mudahan spirit insan citpa akan selalu hadir dalam jiwa Rausyanfikr dan akan terus membawa kearifan serta menerangi jiwa-jiwa yang gelap dalam setiap kehidupan manusia !selamat MILAD HMI ke 60 dan juga lahirnya Rausyanfikr..
(untuk Fajrin, Nia dan Rausyanfikr kecil)

Faursyah Rosyidin
5Februari 2009

Disorientasi pendidikan politik PARPOL !

Usia reformasi yang telah menginjakkan umurnya lebih dari satu dekade, mengggiring demokratisasi ke arah yang lebih liberal senantiasa memantik tumbuh suburnya partai-partai politik di Indonesia. Ketika demokrasi dilihat pada perspektif masyarakat pada masa Orde Baru merupakan sebuah kegembiraan dan sebuah kemenangan besar dimana jalur-jalur demokratisasi betul-betul telah terbuka dengan lebar walaupun hanya sebatas formal-prosedural saja, jikalau kita masih mengingat pada masa itu yang ada hanya depolitisasi dan pengapungan massa yang senantiasa merapuhkan dan melemahkan spirit kebangsaan rakyat.

Dari situlah para tokoh-tokoh demokrasi yang merasa telah memenangkan pertarungan gagasan arah pembangunan bangsa dengan modal konsep demokrasi melawan otoritarianisme Orde Baru kemudian merekonfigurasi sistem perpolitikan di Indonesia yang kemudian melahirkan banyak partai politik yang dipercaya sebagai kendaraan aspirasi rakyat dan dapat menjadi tiang penyangga demokrasi negara. Pada Pemilu tahun 1999 ada 48 Parpol, pada tahun 2004 ada 24 Parpol dan tahun ini (2009) ada 38 Parpol dan 6 partai lokal (di Aceh) yang berkontestasi. Ini menjadi indikator perjuangan demokrasi telah berhasil menggiring pada implementasi liberalisasi perpolitikan di Indonesia. Tetapi yang menjadi sebuah kritikan besar untuk partai politik adalah apakah betul-betul telah berorientasi pada pencerdasan masyarakat sebagai elemen terbesar dalam penerapan demokrasi substansial ?? dan bukan hanya sekedar berorientasi pada tampuk kepemimpinan yang berkamuflase pada aspirasi rakyat !!

Kecemasan Partai Politik
Pemilu 2009 menghadirkan 44 partai politik termasuk di dalamnya partai politik lokal, menjadi sebuah kebingungan tersendiri buat masyarakat. Dengan banyaknya kontestan pemilu apakah cukup bersinergi pada efektifitas proses demokrasi di Indonesia yang tidak luput dari pengamatan kita telah banyak menghabiskan ongkos !! saya biasa menyebutnya Mangkos “Makan Ongkos”.

Proses demokrasi oleh partai politik hari ini terlihat banyak mengeluarkan banyak biaya yang tidak senantiasa menciptakan masyarakat sejahtera, bahkan sebaliknya..., kalau pun ada yang sejahtera untuk masyarakat pada umumnya hanya sementara dan momentum saja, bahkan kesejahteraan besar ada pada konveksi percetakan saja (mencetak banyak baliho dan spanduk partai untuk kepentingan kampanye) yang juga telah berkontribusi besar menciptakan polusi (kotoran dan sampah-sampah) di kota sampai di desa-desa. Pemilu kali ini bisa diartikan hanyalah sebagai ajang pamer ketampanan para caleg (walaupun mungkin tidak ada yang tampan), parade logo-logo dan atribut. Walaupun ada aksi real seperti bakti sosial, donor darah, dsb. Tetapi hal tersbut hanya bersifat temporal dan momentum saja demi untuk meraih simpati suara di TPS nantinya.

Strategi politik Parpol dalam berkampanye terlalu menurut saya terlalu kuno dan konservatif serta tidak berorientasi pada pencerdasan masyarakat, malahan begitu banyak praktik-praktik politik parpol yang tidak membawa nilai-nilai pendidikan politik untuk masyarakat.
Berbagi macam penyimpangan perpolitikan hasil dari disfungsi partai politik yaitu tidak adanya pendidikan politik bagi masyarakat, dimana untuk momentum pemilu 9 April nanti masyarakat membutuhkan gambaran yang jelas tentang visi dan misi serta strategi partai politik dalam memimpin negara ini, bukan dengan menyodorkan baliho-baliho, bendera-bendera dan gula janji-janji kosong.

Berbagai gagasan-gagasan dan janji-janji para caleg (calon legislatif) yang terus berulang tiap momentum pemilu yang tidak menunjukkan kinerja dan hasil sehingga janji-janji dan gagasan tersebut menjadi basi untuk memotivasi masyarakat dalam ikut dalam pesta demokrasi, ditambah lagi dengan kader-kader partai yang menduduki jabatan publik pada prosesnya tidak menunjukkan sikap aspiratifnya telah diberi nilai minus oleh masyarakat.

Pencerahan politik
Tugas dan fungsi Partai Politik adalah memberikan pencerahan pendidikan politik pada masyarakat. Momentum kampanye bagi partai tidak menjadi ajang uji gagasan untuk kepemimpinan bangsa tetapi hanya menjadi momen besar untuk bagaimana menarik massa sebesar-besarnya dan show force untuk kepentingan kekuasaan, terbukti beberapa proses pemilu yang telah melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa tidak mampu menunjukkan kinerja untuk mensejahterakan rakyat tetapi sebaliknya hanyak untuk mensejahterakan dan memperkaya diri sendiri dan kelompoknya untuk kepentingan momentum berikutnya. Begitu banyak kebijakan-kebijakan yang tidak lahir dari kebutuhan masyarakat dominan, mungkin hanya lahir dari masyarakat minoritas yaitu upper class, misalnya proyek-proyek para kaum kapitalis.

Pemilu yang modern adalah pemilu yang menyodorkan hidangan yang lebih produktif dan membangun dibanding hanya menyedikan orkes-orkes yang tidak memiliki nilai pencerdasan politik, justru sebaliknya pembodohan politik, dimana masyarakat disuguhkan dengan orkes-orkes yang hanya memberikan kesenangan sesaat yang menurut saya sangat tidak sesuai dengan fungsi partai sesungguhnya. Kelakuan-kelakuan seperti itu hanya menciptakan fanatisme buta pada setiap partai politik sehingga hal tersebut sangat sesnsitif untuk menciptakan konflik horizontal dalam masyarakat. Jangankan konflik horizontal antar pendukung partai yang berbeda konflik pendukung dalam partai sendiri saja bahkan terjadi, misalnya saja salah satu partai nasionalis dalam menggelar kampanye terbuka di mojekerto terlibat perkelahian saat orkes partai berlangsung, bukan hanya para pendukung yang mengalami konflik, para kader pengurus dalam partai pun sering terlibat perkelahian. Mau dikemanakan wajah perpolitikan bangsa ini, sungguh ironis...

Mestinya tugas partai adalah bagaimana menciptakan pendukung yang memiliki tatanan ideologis partainya baik pada wilayah teorisasi maupun implementasi strateginya. Itulah tugas berat partai politik yang sejak dari dulu tidak pernah ada dalam benak pada para politisi kita.
Jadi secara sadar sebenarnya perpolitikan di Indonesia hanyalah milik para kelompok-kelompok partai saja bukan milik masyarakat, jikalau perpolitikan hanya milik partai saja apa bedanya sistem otoriter pada masa Orde Baru dengan sistem yang kita anggap demokrasi hari ini, atau bisa kita sebut dengan neo-otoritarian. konstalasi-konstalasi perpolitikan hanya berada pada tataran elit negara ini bukan berada di tangan rakyat atau kita bisa katakan rakyat hanya akan selalu menjadi kayu bakar untuk melanggengkan perpolitikan elit.

Mudah-mudahan ini bisa menjadi bahan reflektif kita melihat wajah perpolitikan partai di Indonesia.

Cuap-cuap Ideologi Partai Politik !!


Momentum pertarungan politik pada pemilu legislatif 2009 baru saja meninggalkan sirkuit, saatnya para capres dan cawapres unjuk gigi mempertontonkan kekuatan kendaraan politiknya dalam beradu pada momentum pemilu ini. Tak beda dengan pemilu legislatif, pemilu eksekutif juga menggunakan partai politik sebagai kendaraan politiknya dalam pertarungan.

Logika demokratisasi adalah logika partisipasi, kontestasi dan akuntabilitas. Pola kontestasi dominan dimainkan oleh partai-partai politik sebagai satu-satunya kendaraan politik yang sah di mata regulasi pemilu. Jadi kekuatan partai adalah variabel yg paling substansial dalam mendorong legitimasi dalam tampuk kepemimpinan negara !

Partai politik setidaknya memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai sarana pendidikan politik buat masyarakat, sarana komunikasi politik buat masyarakat, sarana rekruitmen politik dan sebagai peredam konflik. Keempat hal ini lah paling tidak menjadi gerakan partai politik. Tetapi fungsi-fungsi dari partai politik tidak akan dapat terwujud ketika parti politik tidak memiliki konsistensi dalam memperjuangkan ideologinya.

Ideologi partai politik tidak selesai hanya pada konstitusi atau AD/ART saja, tetapi ideologi parpol mestinya menjadi aksiologis pergerakan partai dalam mengemban misi demokrasi. Ingat ideologi yang saya maksud adalah ideologi ”partai” bukan ideologi ”kader partai”. Partai-partai politik hadir dalam sebuah petarungan politik atas dasar perjuangan kelompok-kelompok yang mengusung ideologi yang berbeda. Makanya akibat dari banyaknya partai adalah sebab dari banyaknya perbedaan ideologi sebuah kelompok.

Coba kita lihat kondisi partai politik kita hari ini dalam momentum pemilu. Sewaktu pemilu legislatif setiap parpol kencang berdialektika dengan ideologinya masing-masing untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa ideologi kami lah yang pantas dalam pembangunan negara ini ke depannya. Tapi coba kita lihat pada momentum pemilihan presiden, masihkan ideologi itu dipertahankan ??? ruang-ruang transaksional segera terbuka lebar hanya untuk satu kepentingan, yakni mendapatkan beberapa rupiah atau posisi legitimasi kekuasaan dalam struktur pemerintahan...hehehehe..a
neh..

Ideologi tak lagi menjadi suci untuk diperjuangkan, ideologi tak beda layaknya penikmat lara buat masyarakat untuk melihat masa depan bangsa yang entah diarahkan kemana..

Bukti kongkrit ideologi partai hanya dijadikan (maaf) pembalut kelamin yang gonta ganti tergantung situasi politik seperti banyaknya kader-kader partai yang tercerai berai dalam internal partainya sendiri karena persoalan rekruitmen politik kekuasaaan. Ideologi usungan partai tidak menjadi ikrar dalam setiap kadernya,,entah apakah kaderisasi yang asal-asalan, ataukah memang partai bohong-bohongan.Kalau kita memakai pendekatan alienasinya Marx..partai politik telah teralinasi oleh kadernya sendiri, teralienasi oleh ideoliginya sendiri teralinasi dengan ruang pertarungannya !! kasihan si partai..hihihi..

Sekali lagi partai politik tidak punya ideologi, yang punya ideologi adalah orang-orang dalam partai yang memiliki kepentingan individual dan menggunakan parpol sebagai kendaraan sekedar memenuhi hasrat kekuasan individu. Apa partai yang seperti ini anda butuhkan ? partai yang tdak punya kelamin,,ngak jelas pria atau wanita atau bahakan berkelamin ganda..xixixi silahkan tanya diri anda sendiri..klo saya sich..gak minat sama yang berkelamin ganda !!selanjutnya terserah anda..

Faursyah rosyidin
anak indonesia

Kaki ini telah jauh berjalan....


Malam dingin ditemani beberapa gerombolan nyamuk yg tak kenal lelah menjalani rutinitas kehidupannya..seolah tak punya kawan,,ia menghampiriku dengan wajah memelas penuh harap untuk stetes air kehidupan !!

Bersama dengannya ku utak atik Facebook ku tanpa orientas yg jelas,,grup ika smaga 05 makassar menjadi perhatianku ketika kulihat menjadi sorotan di berandaku...

Heeeh...wajah mereka seakan membuatku kembali dgn masa lalu yg indah..
semuanya terasa dekat...

Cangkir kopi pun kembali kuangkat untuk kesekian kalix ,,ku seruput cafein itu dan membuat metabolisme tubuhku begitu hangat..

Jalan ini terasa JAUH...mereka semua telah bermetamorfosis dalam jubah karakter dan kepribadiannya masing2...hihihi...semuanya terbayang kecut di depan bola mataku..tiap slide foto pun ku renungi betapa mereka begitu polos menjalani kehidupannya masing2.. dengan harap2 cemas,,mungkinkah setiap cerita mereka kan jadi satu rangkaian masa selakyaknya merangkai catatan menjadi buku yang berisi untuk dibaca...??

Saya tak tahu,,,perkawanan ini begitu kontras..mereka telah mengambil pilihan masing2..tp saya yakin esok hari ini kan jadi cerita yang manis untuk anak2 kami kelak !!jiwa ini masih muda...dan perkawanan ini kan selalu di balut dengan rasa kebersamaan yg utuh..hehehehe

Buat kalian semua,,,umur ini bisa bertambah,,,tapi jiwa ini kan slalu hadir mengisi ruang kosong untuk SMAGA 05 !!

TIDAK MAUja sekolah kayak ini !!

Bersedia...
Beri salam...
Selesai...

Itulah instruksi ketua kelas ketika guru tlah masuk ke dalam kelas...hihihi.. setiap rutinitas ceremonial terus dilakoni para peserta didik yg siap mendapatkan ilmu dari sang guru..yang melegitimasi dirinya lebih tahu dibanding kami para siswa-siswi... seolah gelas kosong yang siap dituangkan air pencerahan,...yg sebenarnya tidak begitu mencerahkan... pedagogi itu terus berjalan selama bertahun-tahun bersekolah di institusi formal yang wajib dijalani bagi anak bangsa demi status "berpendidikan" !!

Bersekolah, tidak begitu membuatku merasa cerdas,,kecuali merasa bangga sebagai anak yg berpendidikan dibanding anak lain yang tak mampu bersekolah...tetapi apakah kebanggaan yg kita cari ?? TENTU TIDAK !! kebanggaan itu sebentar lagi hilang seiiring ketidakmampuanku survive dalam kehidupan ini yg begitu kompetitif..tak satu bayangan pun yang membekas tajam dalam ingatanku ttg pelajaran yg kuperoleh dalam pendidikanku bersekolah,,kecuali canda tawa serta senda gurau dengan para sahabat2ku sepulang sekolah..

Ironis memang,,ketika sekolah (kurikulum) diorientasikan pada pembentukan karakter anak untuk bertahan hidup,,ternyata sia2..semuanya seakan hanya menjadi slogan negara yang hanya merealitas di dalam ide saja..

Ruang kelas begitu sunyi dan tegang seperti biasax,,guru tidak akan segan2 memarahi serta memukul kami jika ribut, dan tak nurut terhadap perintahx..

Saya paling takut dipanggil ke depan kelas dan mengerjakan tugas matematika,fisika atau kimia, yang memang dari dulu gak pernah mau masuk di nalarku..

Begitu banyak mata pelajaran yang harus kami kuasai selama bersekolah, yang nantinya tidak akan bermanfaat kelak,,coba tanyakan pada pada habibie,tahukah ia tentang kerja metabilosme tubuh katak dalam pelajaran biologi...??

Bukankah sistem centre learning yg dipahami adalah mendorong kemampuan siswa yang menjadi minatnya !! kalo suka matematika yah didukung..klo tidak suka matematika yah didukung juga !!

Kekakuan model pendidikan indonesia ini yang tidak pernah menjadi surga bagi para anak bangsa dalam bersekolah...jadi wajar saja kalau, banyak anak sekolah yg terlibat tawuran, proyek film porno,,dan juga bolos-bolos sekolah !! heeee...

Bagaimana dengan Thomas A. Edison yg tidak bersekolah, Bill Gates manusia terkaya di dunia yg menciptakan perusahaan terbesar itu yg tidak SARJANA...mampu menaklukkan dunia dengan karya-karyanya...

Aku tersentak termenung melihat kehidupanku selama ini, mugkinkah yg kujalani berarti,,,dan tidak menyepelekan hidupku yg berarti,.. entahlah..semuanya terasa begitu cepat..semuanya berlalu seakan menjadi cerita lama yg tidak berarti,..

Apa yang akan kukatakan pada kawan-kawanku yg lain yang tak sempat mengeyam pendidikan, klo ternyata secara tak sadaar aku hanya membuang-buang waktuku selama ini...

Pendidikan formal membunuh kreativitasku,,karakterku tak kutemukan disana...


Hari2 ini keseharianku di Kampus lebih sering kujalani dengan membaca buku2 yg menurutku nyaman dan bisa meningkatkan intelektualitasku,,,akau lebih memilih untuk nongkrong di kantin sambil membaca buku dengan ditemani dengan susu hangat...mungkin bagiku itu lebih bermanfaat daripada menghabiskan waktu di dalam kelas mendengarkan dosen yang sangat otoriter bercoleteh,,

Hidupku sangat berarti..dengan tidak menjalaninya dengan penuh keterpaksaan... karena betapa bodoh dan naifnya sesorang yang menjalani hidupnya berada dalam keterpaksaan...

Berhentilah..nikmati hidupmu,,kejar cita2mu dengan keyakinanmu,,karena hidup ini adalah pilihan..


Faursyah Rosyidin

Anak Indonesia
(inspirasi : ihza....)