
Tuhan atau Andy ?
Ini adalah sebuah tulisan yang akan menjawab semua pertanyaan Andy selama ini.Andy adalah seorang anak manusia yang selalu bergerak dan menuju ke titk kesempurnaannya,tapi ia dilanda sebuah kebingungan sosial. Rationya selalu mempertanyakan darimana ‘semua’ ini datangnya ?
Dalam alam pikiran Negara kita masih nyata sekali bahwa hubungan Tuhan dan manusia diberi bentuk : takdir. Dengan “takdir” maksudnya: tindakan langsung dari Tuhan yang menentukan nasibnya. Pikiran takdir sangat menonjolkan ke-Mahakuasaan Tuhan. Tuhan nampak seperti dalang segala kejadian riwayat manusia. Hidup,jodoh,rezeki,nasib baik dan buruk sudah direncanakan dan ditentukan oleh Tuhan. Benarkah demikian ?
Menurut teori evolusi manusia bukanlah semacam boneka yang digerakkan oleh tangan Tuhan. Ia merdeka, mampu menentukan nasibnya sendiri, atau paling sedikit bisa mengarah ke situ. Justru itulah kehendak Tuhan. Supaya manusia dengan daya budi dan cintanya bergerak,menjadi kreatif, dengan demikian mencerminkan kreativitas Tuhan sendiri. Manusia bukan sasaran evolusi atau titik akhir evolusi tetapi menjadi subyek dan pendorong evolusinya sendiri. Manusia menjadi lebih sadar akan kemampuannya dan tanggung jawabnya terhadap masa depan. Dengan bantuan teknologi ia dapat memerangi kesengsaraan dan merencanakan wujud dunia, hingga menjadi lebih baik dan manusiawi. Ia meneruskan penciptaan dunia,dengan risiko,bahwa ia bisa gagal, tetapi juga dengan harapan, bahwa ia akan berhasil. Kehidupan ini tak nampak lagi sebagai takdir atau nasib yang harus diterima dengan sabar, tetapi sebagai suatu tantangan, yang menuntut segala kekuatan dan keberanian.
Yang paling tidak diterima adalah pandangan sebagai berikut :”manusia boleh dan harus berusaha sebaik-baiknya. Tapi jika usahanya gagal itulah takdir”. Darimana kita tahu bahwa kegagalan usaha manusia adalah takdir tuhan ? apakah tuhan memang menakdirkan kegagalan dan sengsara ?bukankah Al-Qur’an memperkenalkan kita dengan Tuhan yang menghendaki keselamatan manusia,juga di dunia ini.
Maka jika sesuatu usaha manusia gagal,harus ditanyakan dulu :apakah usaha itu memang merupakan pilihan tepat, yang sesuai dengan bakat dan kemampuan orangnya? Kalau seseorang tidak bakat dalam ilmu Nutrisi ternak Dasar misalnya,kemudian gagal respon dan akibatnya “ember”lah yang harus menjawabnya !maka jelaslah itu bukan takdir ,melainkan akibat pilihan yang salah dari mahasiswa itu sendiri. Kegagalan bisa saja terjadi akibat karena kurang bertekun,atau justru terlalu percaya akan suatu ramalan ,akan “nasib”,sehingga ia kurang menggali kekuatannya sendiri. Ataukah ada faktor lain?seringkali suatu usaha yang baik gagal,karena struktur kultural sosial (adat dan kebiasaan masyarakat) menghalangi keberhasilan,demikian misalnya pengetikan manual laporan praktikum.Maka yang perlu dirubah adalah struktur kurtural sosial itu sendiri.
Pokoknya paham takdir mengaburkan kita dengan Tuhan. Kita adalah manusia yang merdeka, bukan budaknya. Dengan menyangkal paham takdir, kita menyangkal pengaruh Tuhas atas manusia. Pengaruh itu sebaiknya kita namakan “bimbingan” atau ”rahmat”. Bimbingan itu menggunakan banyak jalur, Tuhan secara lembut kita lewat hati nurani atau perantara sesama manusia bahkan lewat alam semesta Tuhan juga menyampaikan suatu pesan pesan kepada kita. Dengan semua itu Allah tidak mengurangi kebebasan manusia,bahkan menunjuangnya.Allah tidak menakdirkan,tetapi mencintai.
FAURSYAH ROSYIDIN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar