Minggu, 16 November 2008

KAPITALIS GERAYANGI PENDIDIKAN KITA...!!!

KAPITALIS GERAYANGI PENDIDIKAN KITA…!!!


Pendidikan kita sekarang sedang sakit parah, dan dirawat inap di penjara batu dan gelap sehingga kita tidak bisa melihat dan mendapatkannya, kita tersesat di belantara sesaknya kaum kapitalis menggerayangi pendidikan kita. Rakyat sedang bermain kejar-kejaran dalam kegelapan dengan pendidikan. Tapi sepertinya pendidikan kita telah diajarkan ilmu menghilang oleh kaum kapitalis sehingga kita ngak bisa menemukannya.

Pendidikan hari ini hanya diperuntukkan bagi kelas atas (upper class) dan kaum elit sedangkan diluar dari pada itu adalah masyarakat ”cundekkeng” yang gak bisa mengenyam pendidikan yang baik dan layak. Memang Undang-Undang Dasar negara kita menggariskan semua warga negara berhak memperoleh pendidikan yang layak. Bagi kaum elit dan kelas atas sangat layak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dalam hal ini infrastruktur dan suprastruktur yang sangat bagus (kalau pendidikan itu cewe’, cecan (cewe’ cantik) skalimi...). Sedangkan bagi rakyat miskin nan jelata juga sangat layak mendapatkan pendidikan, yang layak buat mereka ialah pendidikan ”apa adanya” ! ada uang ada sekolah, tidak ada uang tidak ada sekolah, jadi jika tidak ada apa-apanya bakal tidak sekolah! Kata layak itu sangatlah absurd, sangat tidak jelas parameter yang dikatakan layak. Sama halnya bahwa pemerintah mencanangkan rakyat wajib sekolah 9 tahun. Memang rakyat wajib untuk sekolah 9 tahun tapi pemerintah tidak wajib untuk membayarkan. Kata itu harus diganti dengan rakyat berhak sekolah 9 tahun.

Iklan ’’Ayo Sekolah’’ di televisi yang mendorong anak-anak bersekolah, tetapi begitu tiba di sekolah ditolak mentah-mentah karena tidak ada biaya. Rakyat di panggil masuk ke sekolah setelah tiba di sekolah mereka dihabisi dengan berbagai macam biaya pembangunan, buku, seragam, dll.

Gejala kritis pendidikan yang terkait dengan kecenderungan negatif yang melanda negeri kita sebagai akibat globalisasi adalah bahwa pendidikan dijadikan sebagai arena bisnis terutama untuk meningkatkan penghasilan, bukan untuk meningkatkan kreativitas pembelajarannya.

Jika seseorang merasa terdidik, apakah ia telah mengamalkan keterdidikannya kepada orang yang belum terdidik, orang belum bisa dikatakan terdidik jika ia belum bisa mengamalkan keterdidikannya. Karena ia baru dikatakan terdidik ketika ia mengaktualkannya.

FAURSYAH ROSYIDIN.Orang yang belum terdidik.

Tidak ada komentar: