PESAN DARI BALIK “SEL” INSTITUSI PENDIDIKAN
Pendidikan adalah penjaga keselamatan yanglebih baik
bagi kebebasan daripada sebuah angkatan bersenjata.
Pada hakikatnya pendidikan hadir di muka bumi ini upaya memanusiakan manusia. Seperti apa yang dikatakan Ali Syariati (Seorang revolusioner iran) pada hakikatnya manusia memiliki dua sisi. Sisi insan dan sisi basyar. Kedua sisi inilah yang inheren dalam diri manusia, setiap sisinya akan mewakili gerak dan karakter manusia, Insan adalah sesuatu yang senantiasa bergerak menuju kesempurnaan, sedangkan sebaliknya Basyar yang senantiasa akan bergerak kepada kenistaan.
Dunia pendidikan hadir dan terinternalisasi ke dalam insan setiap manusia hingga sampai pada maqam kesempurnaan, tetapidalam diri akan selalu bertarung dengan sisi basyar. Ketika manusia mampu mengalahkan sisi basyarnya (nafsu materi) dan memenangkan sisi insannya maka ia akan menjadi manusia yg paripurna dan menjadi intelektual yang tercerahkan (Rausyan fikr).
Pendidikan yang diformalkan dalam sebuah institusi harus mampu menerjemahkan hakikat pendidikan tersebut pada ranah aksiologis, tidak selesai sampai pada epistemologisnya saja.
Komersialisasi pendidikan adalah salah satu biang kerok amburadulnya dunia pendidikan yang ada saat ini, profesionalisme yang carut marut, tawuran antar mahasiswa serta semua fenomena amoral yang terjadi di sebuah institusi pendidikan kita.
Ketika sebuah akal budi murni (Kant) tidak lagi menjadi landasan para aparatur pendidikan maka dengan senantiasa pendidikan akan teralienasi menuju mekanisme pasar dan berujung pada pendidikan yang berorientasi profit yang megejar laba sebesar-besarnya, hal ini dijadikan alasan demi kesejahteraaan aparatur, padahal pada esensi adalah PENGABDIAN.
Ini adalah PR buat bapak Bambang Pendidikan dalam menyelesaikan segala latensi permasalahan yang ada di pendidikan kita, karena jika ini termanifestasi pada realitas empirik maka niscaya akan terjadi kekacausan sosial (Sosial Chaos).
Mestinya telinga itu difungsikan dengan baik agar semua teriakan-teriakan intelektualisme dari balik jeruji institusi pendidikan dapat terdengar dengan baik, karena teriakan-teriakan itu telah lama di dengungkan dan tidak akan pernah berhenti ketika masih terjadi penindasan intelektual didalamnya.
Faursyah Rosyidin


