Senin, 17 November 2008

PESAN DARI BALIK "SEL" INSTITUSI PENDIDIKAN

PESAN DARI BALIK SEL INSTITUSI PENDIDIKAN

Pendidikan adalah penjaga keselamatan yanglebih baik
bagi k
ebebasan daripada sebuah angkatan bersenjata.

Edward Everett.

Pada hakikatnya pendidikan hadir di muka bumi ini upaya memanusiakan manusia. Seperti apa yang dikatakan Ali Syariati (Seorang revolusioner iran) pada hakikatnya manusia memiliki dua sisi. Sisi insan dan sisi basyar. Kedua sisi inilah yang inheren dalam diri manusia, setiap sisinya akan mewakili gerak dan karakter manusia, Insan adalah sesuatu yang senantiasa bergerak menuju kesempurnaan, sedangkan sebaliknya Basyar yang senantiasa akan bergerak kepada kenistaan.

Dunia pendidikan hadir dan terinternalisasi ke dalam insan setiap manusia hingga sampai pada maqam kesempurnaan, tetapidalam diri akan selalu bertarung dengan sisi basyar. Ketika manusia mampu mengalahkan sisi basyarnya (nafsu materi) dan memenangkan sisi insannya maka ia akan menjadi manusia yg paripurna dan menjadi intelektual yang tercerahkan (Rausyan fikr).

Pendidikan yang diformalkan dalam sebuah institusi harus mampu menerjemahkan hakikat pendidikan tersebut pada ranah aksiologis, tidak selesai sampai pada epistemologisnya saja.

Komersialisasi pendidikan adalah salah satu biang kerok amburadulnya dunia pendidikan yang ada saat ini, profesionalisme yang carut marut, tawuran antar mahasiswa serta semua fenomena amoral yang terjadi di sebuah institusi pendidikan kita.

Ketika sebuah akal budi murni (Kant) tidak lagi menjadi landasan para aparatur pendidikan maka dengan senantiasa pendidikan akan teralienasi menuju mekanisme pasar dan berujung pada pendidikan yang berorientasi profit yang megejar laba sebesar-besarnya, hal ini dijadikan alasan demi kesejahteraaan aparatur, padahal pada esensi adalah PENGABDIAN.

Ini adalah PR buat bapak Bambang Pendidikan dalam menyelesaikan segala latensi permasalahan yang ada di pendidikan kita, karena jika ini termanifestasi pada realitas empirik maka niscaya akan terjadi kekacausan sosial (Sosial Chaos).

Mestinya telinga itu difungsikan dengan baik agar semua teriakan-teriakan intelektualisme dari balik jeruji institusi pendidikan dapat terdengar dengan baik, karena teriakan-teriakan itu telah lama di dengungkan dan tidak akan pernah berhenti ketika masih terjadi penindasan intelektual didalamnya.

Faursyah Rosyidin

Minggu, 16 November 2008

Tuhan atau Andy ??


Tuhan atau Andy ?

Ini adalah sebuah tulisan yang akan menjawab semua pertanyaan Andy selama ini.Andy adalah seorang anak manusia yang selalu bergerak dan menuju ke titk kesempurnaannya,tapi ia dilanda sebuah kebingungan sosial. Rationya selalu mempertanyakan darimana ‘semua’ ini datangnya ?

Dalam alam pikiran Negara kita masih nyata sekali bahwa hubungan Tuhan dan manusia diberi bentuk : takdir. Dengan “takdir” maksudnya: tindakan langsung dari Tuhan yang menentukan nasibnya. Pikiran takdir sangat menonjolkan ke-Mahakuasaan Tuhan. Tuhan nampak seperti dalang segala kejadian riwayat manusia. Hidup,jodoh,rezeki,nasib baik dan buruk sudah direncanakan dan ditentukan oleh Tuhan. Benarkah demikian ?

Menurut teori evolusi manusia bukanlah semacam boneka yang digerakkan oleh tangan Tuhan. Ia merdeka, mampu menentukan nasibnya sendiri, atau paling sedikit bisa mengarah ke situ. Justru itulah kehendak Tuhan. Supaya manusia dengan daya budi dan cintanya bergerak,menjadi kreatif, dengan demikian mencerminkan kreativitas Tuhan sendiri. Manusia bukan sasaran evolusi atau titik akhir evolusi tetapi menjadi subyek dan pendorong evolusinya sendiri. Manusia menjadi lebih sadar akan kemampuannya dan tanggung jawabnya terhadap masa depan. Dengan bantuan teknologi ia dapat memerangi kesengsaraan dan merencanakan wujud dunia, hingga menjadi lebih baik dan manusiawi. Ia meneruskan penciptaan dunia,dengan risiko,bahwa ia bisa gagal, tetapi juga dengan harapan, bahwa ia akan berhasil. Kehidupan ini tak nampak lagi sebagai takdir atau nasib yang harus diterima dengan sabar, tetapi sebagai suatu tantangan, yang menuntut segala kekuatan dan keberanian.

Yang paling tidak diterima adalah pandangan sebagai berikut :”manusia boleh dan harus berusaha sebaik-baiknya. Tapi jika usahanya gagal itulah takdir”. Darimana kita tahu bahwa kegagalan usaha manusia adalah takdir tuhan ? apakah tuhan memang menakdirkan kegagalan dan sengsara ?bukankah Al-Qur’an memperkenalkan kita dengan Tuhan yang menghendaki keselamatan manusia,juga di dunia ini.

Maka jika sesuatu usaha manusia gagal,harus ditanyakan dulu :apakah usaha itu memang merupakan pilihan tepat, yang sesuai dengan bakat dan kemampuan orangnya? Kalau seseorang tidak bakat dalam ilmu Nutrisi ternak Dasar misalnya,kemudian gagal respon dan akibatnya “ember”lah yang harus menjawabnya !maka jelaslah itu bukan takdir ,melainkan akibat pilihan yang salah dari mahasiswa itu sendiri. Kegagalan bisa saja terjadi akibat karena kurang bertekun,atau justru terlalu percaya akan suatu ramalan ,akan “nasib”,sehingga ia kurang menggali kekuatannya sendiri. Ataukah ada faktor lain?seringkali suatu usaha yang baik gagal,karena struktur kultural sosial (adat dan kebiasaan masyarakat) menghalangi keberhasilan,demikian misalnya pengetikan manual laporan praktikum.Maka yang perlu dirubah adalah struktur kurtural sosial itu sendiri.

Pokoknya paham takdir mengaburkan kita dengan Tuhan. Kita adalah manusia yang merdeka, bukan budaknya. Dengan menyangkal paham takdir, kita menyangkal pengaruh Tuhas atas manusia. Pengaruh itu sebaiknya kita namakan “bimbingan” atau ”rahmat”. Bimbingan itu menggunakan banyak jalur, Tuhan secara lembut kita lewat hati nurani atau perantara sesama manusia bahkan lewat alam semesta Tuhan juga menyampaikan suatu pesan pesan kepada kita. Dengan semua itu Allah tidak mengurangi kebebasan manusia,bahkan menunjuangnya.Allah tidak menakdirkan,tetapi mencintai.

FAURSYAH ROSYIDIN

KAPITALIS GERAYANGI PENDIDIKAN KITA...!!!

KAPITALIS GERAYANGI PENDIDIKAN KITA…!!!


Pendidikan kita sekarang sedang sakit parah, dan dirawat inap di penjara batu dan gelap sehingga kita tidak bisa melihat dan mendapatkannya, kita tersesat di belantara sesaknya kaum kapitalis menggerayangi pendidikan kita. Rakyat sedang bermain kejar-kejaran dalam kegelapan dengan pendidikan. Tapi sepertinya pendidikan kita telah diajarkan ilmu menghilang oleh kaum kapitalis sehingga kita ngak bisa menemukannya.

Pendidikan hari ini hanya diperuntukkan bagi kelas atas (upper class) dan kaum elit sedangkan diluar dari pada itu adalah masyarakat ”cundekkeng” yang gak bisa mengenyam pendidikan yang baik dan layak. Memang Undang-Undang Dasar negara kita menggariskan semua warga negara berhak memperoleh pendidikan yang layak. Bagi kaum elit dan kelas atas sangat layak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dalam hal ini infrastruktur dan suprastruktur yang sangat bagus (kalau pendidikan itu cewe’, cecan (cewe’ cantik) skalimi...). Sedangkan bagi rakyat miskin nan jelata juga sangat layak mendapatkan pendidikan, yang layak buat mereka ialah pendidikan ”apa adanya” ! ada uang ada sekolah, tidak ada uang tidak ada sekolah, jadi jika tidak ada apa-apanya bakal tidak sekolah! Kata layak itu sangatlah absurd, sangat tidak jelas parameter yang dikatakan layak. Sama halnya bahwa pemerintah mencanangkan rakyat wajib sekolah 9 tahun. Memang rakyat wajib untuk sekolah 9 tahun tapi pemerintah tidak wajib untuk membayarkan. Kata itu harus diganti dengan rakyat berhak sekolah 9 tahun.

Iklan ’’Ayo Sekolah’’ di televisi yang mendorong anak-anak bersekolah, tetapi begitu tiba di sekolah ditolak mentah-mentah karena tidak ada biaya. Rakyat di panggil masuk ke sekolah setelah tiba di sekolah mereka dihabisi dengan berbagai macam biaya pembangunan, buku, seragam, dll.

Gejala kritis pendidikan yang terkait dengan kecenderungan negatif yang melanda negeri kita sebagai akibat globalisasi adalah bahwa pendidikan dijadikan sebagai arena bisnis terutama untuk meningkatkan penghasilan, bukan untuk meningkatkan kreativitas pembelajarannya.

Jika seseorang merasa terdidik, apakah ia telah mengamalkan keterdidikannya kepada orang yang belum terdidik, orang belum bisa dikatakan terdidik jika ia belum bisa mengamalkan keterdidikannya. Karena ia baru dikatakan terdidik ketika ia mengaktualkannya.

FAURSYAH ROSYIDIN.Orang yang belum terdidik.